Jalan yang sama

Dua hari ini saya mengikuti santri siap guna (SSG) angkatan 34. Pertemuan ini merupakan pertemuan kedua dari total delapan atau sepuluh pertemuan. Malam tadi saya dan peserta lain melakukan perjalanan malam dari Daarut Tauhiid Gegerkalong ke suatu tempat.

Di antara banyak hikmah yang insyaallah berusaha dipetik, ada hikmah yang membuat saya merasa perlu mujahadah lebih. Tanpa mengeluh, dengan pengorbanan yang lebih. Hikmah itu bahwa telah ribuan orang menapaki jalan yang sama di SSG ini, peserta sebelumnya melakukan perjalanan malam juga. Diantara peserta sebelumnya bahkan saya kira banyak akhwat yang menyelesaikan SSG tanpa mengeluh.

Lebih dari pada itu, sesungguhnya setiap mukmin yang berusaha dengan dengan Rabbnya melakukan hal yang sama : mujahadah. Di tempat lain dan di waktu lain, mukmin berusaha mendekatkan diri kepada Allah. Tidak hanya berjalan malam, mereka senantiasa berdzikir, senantiasa mendirikan shalat baik wajib maupun Sunnah, ta'amul (berinteraksi) dengan Al-Qur'an, berdakwah, berjihad, dan amal-amal yang lain.

Sungguh jauh diri ini dari mukmin seperti itu. Walau diri ini-pun ingin dekat dengan dzat pencipta alam, berusaha beramal, serta berharap ridha Allah. Dengan demikian semoga Allah mengampuni dosa, menerima amal, serta memberikan rahmatnya. Sungguh diri ini berharap dimasukkan ke dalam surga, berkumpul dengan penghuninya, bertemu dengan Rasulullah SAW, dan senantiasa menatap wajah Allah. Masyaallah, suatu kenikmatan yang agung.

Wahai diri dan engkau yang membaca tulisan ini, semoga Allah wafatkan dalam keadaan husnul khatimah. Amin

Komentar