Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

Jamuan

Gambar
Kira-kira bagaimana kesibukan dalam menjamu tamu? Apa kamu pernah merasakan rasanya menjamu tamu? Saya boleh jadi termasuk ke kebanyakan orang yang senang dijamu. Namun di satu sisi, saya merasa tak nyaman karena melihat kerepotan tuan rumah. Dalam perenungan ini, terdapat berbagai keterangan jika menyambut tamu merupakan adab seorang muslim. Allah menyertakan malaikat bersama tamu yang berkunjung. Allah juga melapangkan rezeki orang-orang yang menyambung silaturahmi. Apa kita patut menolak jamuan? Sepertinya tidak. Menolak jamuan boleh jadi malah menyakiti tuan rumah yang telah bersusah payah menyambut. Mereka mengharapkan pahala karena menjaga adab bersaudara. Lalu bagaimana? Hemat saya sikap yang tepat yakni menerima dengan senang hati jamuan orang lain. Ekspresikan kebahagiaan kita dengan sikap yang sopan. Adapun makanan yang dihidangkan, makanlah apa yang engkau sukai, tak mencela yang kau tak suka, makanlah tanpa berlebihan. Setelah semua itu kita jalankan, point penting s...

Me Time

Me time bisa diartikan sebagai kesenangan seseorang saat sendiri. Me time juga dapat dikatakan sebagai saat seseorang menikmati kesendiriannya. Saya sudah lama ingin menulis tentang me time. Bukan untuk menjelaskan teori tentang me time, bukan untuk menggambarkan bagaimana me time menurut para ahli. Saya menulis sekedar untuk mengamati diri, menuliskan tentang diri, dan berharap ada manfaat yang dapat diambil. Saya merupakan pribadi introvert, meskipun sering juga berperilaku, bersikap, dan beraktivitas sebagai ekstrovert. Misalnya saja saat saya merasakan sebagai pribadi introvert, tapi saya masuk jurusan Ilmu Komunikasi. Saya juga sempat memiliki komunitas public speaking. Saya masuk ke berbagai organisasi dan komunitas. Bahkan saat ini saya berprofesi sebagai kepala biro Humas di salah satu Yayasan di Kota Bandung. Ada juga yang menggambarkan saya sebagai ekstrovert, misalnya saya senang bicara dan bercerita. Seringkali dalam berbagai kesempatan, saya menginginkan percakapan dan ...

LAKI-LAKI HARUS MASKULIN, PEREMPUAN HARUS FEMININ?

B y : Intan Savitri Istri: Bang, kenapa sih tadi lupa jemput? Abang tidak sayang lagi ya? Suami: Memang lupa, soalnya tadi ada tamu datang, trus benerin laptop. Istri: masa sama istri lupa? Ah, abang niy! Dah gak cinta Suami: bukan begitu (kenapa dia gak tlp sih, ngingetin gitu) Istri: ya begitu (kenapa susah minta maaf sih?) Pertanyaannya: Kenapa yang dalam kurung itu tidak dikatakan atau langsung dilakukan yaa? Apakah benar perempuan terlalu cerewet dan tidak bisa mengelola kecerewetannya dengan baik? Apakah ini karena perempuan memiliki 20 ribu kata yang harus dikeluarkan setiap hari seperti kata John Gray dalam buku “Man are from mars and women are from venus” dan laki-laki tidak bisa mengerti itu? Apakah laki-laki memang harus masuk ke dalam guanya, dan perempuan tidak bisa mengerti karena menurutnya masuk ke dalam gua tidak menyelesaikan masalah? Mungkin benar mungkin tidak, karena pada dasarnya komunikasi itu seni, tetapi kemudian para intelektual mencoba men...

Belum Tiba Waktunya

Sebelum tiba saatnya kehalalan, sepasang calon pasangan tetaplah calon. Sepasang calon bukanlah sepasang suami-istri. Kalimat di atas agaknya terlalu naif bagi saya yang belum mengalami apa yang orang lain alami (baca : hari-hari menjelang pernikahan). Saya betul-betul tak tahu bagaimana rasanya ketika detik-detik pernikahan itu tiba. Hanya saja saat ini begitulah yang saya pikirkan. Perjalanan menuju halal masih panjang, namun seolah-olah sudah jadi pasangan. Bagi saya tidak, bagaimanapun belum halal. Tegur sapa, Tersenyum tertawa, Menatap mengamati, Mendengarkan dan saling berkisah, Dan seterusnya. Apa semua diperbolehkan, padahal belum sama sekali halal? Sejujurnya saya juga merasakan ingin memiliki seseorang yang bersedia ditegur dan disapa, yang mau menerima senyum dan tertawa bersama saya, yang saling menatap dan mengamati yang menjadikannya pahala, berkisah, didengarkan, dan mendengarkan. Jujur saja, saya rindu mendengarkan kisah dan cerita seseorang. Apalagi dari se...

Melihatmu Dewasa

Rupanya melihat melihat seorang anak bertumbuh dan berkembang semakin dewasa merupakan kebahagiaan. Mungkin ini yang namanya naluri seorang ayah. Setiap hari memperhatikan tingkah-polah anak yang ada-ada saja. Makan tak beraturan, lari-lari kesana-kemari, susah mandi, mandipun jadi ajang basah-basahan, corat-coret di dinding, menumpahkan sesuatu, menjatuhkan sesuatu, dan banyak tingkah lainnya. Namun jika melihat itu semua sembari melihat anak semakin dewasa, justru malah senang. Perilaku anak-anak itu justru merupakan pembelajaran menuju kedewasaannya. Meski lelah menghampiri, namun tak dihiraukan. Sekejap saja konsentrasi mengurus anak pecah, bisa jadi anak ada dalam kondisi bahaya. Apalagi tak selamanya anak tak dapat dijauhkan dari jalan-jalan, benda-benda tajam, tempat tinggi, tayangan yang merusak moral dan keyakinan, dan hal lain yang dapat membahayakannya.

Nama Galih Kurniawan dan Maknanya

Berdasarkan pencarianku dan wawancaraku dengan orang tua,  nama galih Kurniawan diambil dari tiga suku kata yakni galih, kurnia, dan wan. Galih punya banyak makna. Setidaknya ada tiga makna yang saya temukan. Pertama bermakna dua atau kedua. Makna ini diambil dari kata "Kalih" dalam bahasa jawa kuno yang berarti dua. Orang tua memilihkan nam ini karena saya merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Makna kedua yakni bagian dalan pohon yang hitam karena kerasnya. Bisa juga disebut inti kayu. Saya senang dengan makna ini. Makna yang saya tangkap bahwa nama galih haruslah seorang pribadi yang dewasa. Makna ketiga dari Galih yakni hati. Makna ini juga saya suka. Teringat sebuah hadist Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa di dalam tubuh manusia ada sesuatu yang menjadi indikator baik buruknya seseorang. Maksudnya yakni hati. Sedangkan kurnia berarti anugerah, nikmat, pemberian berharga, dan makna sejenis. Maksudnya, anak yang terlahir merupakan karunia dari Allah SWT. adapun...

Perjuangan Ibu pasca melahirkan

Perjuangan seorang ibu dalam proses melahirkan tidak sampai hanya pada "mengeluarkan bayi dari perutnya." Perjuangannya lebih daripada itu. Perjuangan lainnya yakni berusaha sembuh dari sakit yang dialaminya. Berusaha tegar untuk menahan sakit yang bertumpuk-tumpuk. Menahan tangis agar air mata tak banyak (atau sama sekali) tak tumpah. Seseorang yang belum melahirkan atau takkan melahirkan (maksud saya laki-laki) takkan merasakan bagaimana sakitnya proses melahirkan. Sungguhpun saya berempati maka saya takkan merasakan sakit yang dirasakan. Namun, perlulah kiranya, apa yang kita pandang, kita dengar, kita raba, dan kita coba rasakan, menjadi sikap positif yang perlu kita bangun. Cukuplah kita mengetahui secara nalar, atau cerita dari orang lain bahwa begitu sakitnya proses melahirkan. Oleh karenanya kita perlu memberi makna pada peristiwa itu. Bagi seorang anak, perlulah semakin cinta dan hormat pada ibunya. Bagi seorang laki-laki, perlulah semakin sayang, berkorban, dan...

Rumah tangga itu...

"Rumah Tangga itu kerjasama" Simpulan itu yang saya ambil dari aktivitas sepekan ini. Selasa pekan ini kakak perempuan saya melahirkan sesar. Sejak saat itu hingga akhir pekan, beliau dirawat di rumah sakit. Otomatis kedua anak laki-lakinya ditinggal di rumah dan tetap perlu diperhatikan. Oleh karena itu, adik laki-lakinya ini hadir untuk membantu mengurus anak-anak kakak. Saya bersyukur belajar lelah, belajar perhatian, belajar menurunkan ego, belajar memberi, belajar mencurahkan cinta pada anak. Sungguh pembelajaran yang berharga. Lebih teknisnya, saya jadi belajar memandikan anak, membersihkan kotorannya, menyiapkan makanannya, mengurusi sekolahnya, menangani anak yang tangtrum, menidurkan anak, dst. Alhamdulillah sungguh pembelajaran yang berharga. Boleh jadi ini cara Allah untuk mendidik dan mempersiapkan saya menjadi seorang suami dan ayah yang lebih baik. Ada ruang-ruang belajar yang Allah berikan sebelum saya menjadi seorang suami bagi istri saya dan ayah bagi a...

Warisan yang Paling Berharga - oleh Ustadz Rohmanto Abu Al-Laits

Susah payah bangun rumah untuk anak cucu, padahal di masa mereka nanti rumah orangtua akan dibongkar karena dianggap kuno. Susah payah mewariskan mobil, padahal pada di suatu masa nanti mobilnya akan dijual karena rusak atau tak dianggak laik jalan. Susah payah mewariskan sawah, padahal sawah akan berubah perumahan orang lain karena anak cucu tak mau tanam menanam lagi. Susah payah membangun perusahaan demi anak cucu, padahal pada suatu waktu perusahaannya akan gulung tikar karena sudah tak bisa bersaing dengan perusahaan lain yang lebih baru. Susah payah menabung untuk anak cucu, pada masanya uang sudah tak bernilai karena inflasi tak terkendali. Yang masih susah payah mengumpulkan dunia demi kebahagiaan anak cucu...anda pasti akan menyesal karena pengorbanan anda tak begitu akan diharga oleh mereka. Bukan apa-apa, tapi zaman sudah berbeda. Maka... Susah payahlah membangunkan anak cucu untuk shalat Seriuslah mendidik anak cucu supaya hafal alquran Disiplinlah menjadikan anak...

BENCI AYAH - BENCI TUHAN? Oleh Elly Risman, S.Psi

Seorang ibu muda berdiri mengacungkan tangannya untuk bertanya dalam sebuah seminar saya suatu hari. Dia menanyakan tentang anak laki-lakinya berusia 16 tahun yang mengalami perubahan yang sangat drastis dan tidak masuk akal mereka sebagai orang tua. Sejak kecil anaknya ini dikenal sangat patuh, baik, alim, suka mengaji dan bahkan sering jadi imam baik disekolah maupun dirumah. Tapi akhir-akhir ini dia mogok semua, bukan hanya jadi imam tapi bahkan mengaji dan sholat ditinggalkan. Kemudian, ibu ini mengakui bahwa kedua mereka tadinya sangat sibuk, terutama suaminya. Pendek cerita, dalam menghadapi situasi anaknya ini mereka kemudian menyadari dan mengurangi aktifitasnya dan ayah mulai mencoba mendekati anaknya, tetapi tak nampak adanya perubahan pada anaknya tersebut. Saya menangkap kegalauan yang sangat dari wajahnya dan mengerti mengapa dia “hilang malu” terhadap lebih dari 500 lebih audiens lainnya ketika menceritakan tentang anaknya ini. Seorang ibu lainnya bertanya ha...

Surat untuk calon istriku (8)

Saat ini kakak perempuanku sedang berusaha untuk pulih pasca operasi persalinan sesar. Saya amat terenyuh dengan perjuangan seorang istri dan ibu untuk suami dan anak-anaknya. Dari melihat kondisi kakak saya itu, saya jadi banyak merenung tentang peran suami dan ayah yang musti dijalankan. Tentang bagaimana nanti saya akan menjadi seorang suami dan ayah. Saya juga melihat perjuangan kakak ipar saya, suami kakak saya dalam mengurusi segala hal tentang istri dan anaknya. Saya jadi merenung, bisakah saya seperti beliau? Untuk engkau calon istriku, Siapapun engkau, dimana pun, bila nanti Allah takdirkan kita bersama kuminta suatu hal. Diantara permintaanku adalah tolong banyak-banyak mengingatkan siapa diriku, siapa rabb-ku, tentang surga dan neraka, tentang peran seorang suami dan ayah di dalam keluarga. Saat itu, secara tak langsung engkau sedang mendidikku, mendidik suami surga untukmu. Untuk engkau calon istriku, Apa saatnya nanti bila aku tak memiliki suatu kemampuan engkau akan ...