Lapar
Suatu waktu saya pernah berdiskusi dengan dengan seorang teman. Ia berkata, "kang, saya ini ingin menikah. Bila diibaratkan, keinginan menikah saya ini seperti lapar. Ia perlu dipenuhi dengan makan. Cuma kan, makanannya harus dipilih ya? Tidak sembarang makanan bisa mengenyangkan."
Pembicaraan itu berlangsung saat pertemuan kami secara khusus. Tujuan pembicaraannya adalah tentang silaturahmi dan curhatan teman ke saya. Ia ingin bertemu dengan saya untuk membicarakan proses pernikahannya. Meskipun usia teman saya itu lebih tua dibanding usia saya namun kami kerap ngobrol tentang hal ini.
Menanggapi perkataannya, saya sampaikan kepadanya, "Kang, lapar bagi seseorang itu bertingkat-tingkat. Nah selapar apa akang ini? Bila lapar dapat membuat akang mati, maka pilihlah santapan terbaik lalu makanlah. Jangan banyak mikir. Adapun bila masih memiliki waktu maka pilihlah dulu."
"Sepertinya saya sangat lapar." Katanya.
"Ya sudah, di depan akang ada pilihan santapan yang baik. Jika akang lapar maka makanlah. Jangan sampai akang mati. Sesuaikan dengan syariat."
Komentar
Posting Komentar