Surat untuk calon istriku (6)

Wahai engkau yang aku tak tahu siapa,

Ketahuilah bahwa masalaluku tak terlalu terang untuk diceritakan, bahkan lebih lebih tepat untuk dikubur dalam-dalam. Hanya saja, ia tak dapat aku hilangkan karena ia bagian dari hidupku. Masa lalu memiliki dampak pada saat ini, atau mungkin esok hari. Aku hanya dapat memaafkan dan berusaha memperbaiki masalaluku itu.

Wahai engkau,
Cukuplah engkau ketahui saja kondisi umumku. Takkan kuceritakan masalaluku yang temaram itu. Hanya apabila engkau telah ridha menerimaku maka akan aku ceritakan sisi gelapku.

Wahai calon istriku,
Apa engkau menerimaku karena istikharah? Apa engkau yakin? Maaf, bukannya aku meragukanmu. Aku hanya ingin memastikan keyakinkanmu.

Wahai engkau,
Bila penerimaanmu terhadapku karena istikharah maka Alhamdulillah, semoga menjadi jalan kebaikan untuk kita. Jikapun engkau belum istikharah, mohon mengajukan permintaan agar engkau melakukan istikharah kembali.

Wahai engkau,
Sesungguhnya aku berikhtiar melakukan istikharah setiap hari. Semoga ia menjadi sarana Allah memberiku pilihan terbaik. Aku berharap Allah memberikan ketenangan pada hatiku.

Wahai engkau,
Sesungguhnya istikharah yang tepat akan memiliki hasil yang sama. Ketenangan akan dipasangkan dengan ketenangan juga hingga akhirnya sampai di pelaminan.

Komentar