Surat untuk calon istriku (7)
Wahai engkau calon istriku,
InsyaAllah senantiasa kutegakkan istikharah dalam hari-hariku. Selalu kutanyakan dan kupasrahkan semua pilihanku kepada Allah Rabb semesta alam. Senantiasa kulantunkan doa istikharah seraya takut dan harap yang kuusahakan.
Wahai engkau calon istriku,
Aku mendengar jika tak berhak seseorang berkecenderungan meskipun saat berproses menuju pernikahan. Oleh karena itu maka akan kujaga hatiku agar jernih. Akan kuupayakan agar akad segera kuucapkan. Hei apa kau tahu? Sejujurnya aku berkali-kali menghafal format akad nikah agar lancar kulafalkan. Lantas siapa namamu, ayahmu, walimu?
Wahai engkau calon istriku,
Takkan kubiarkan suratku habis di sini. Ketahuilah, boleh jadi akan kusurati engkau sepekan sekali. Begitu inginnya aku memberimu hadiah karena engkau telah begitu baik menerima kekurangan dan menutupnya dengan kebaikanmu.
Wahai engkau calon istriku,
Untuk sekarang, paragraf ini menjadi akhir suratku untukmu. Bila saja, aku dan engkau tak sempat bertemu. Tak pernah ada kehalalan di antara kita. Lalu Allah takdirkan kita berdua belum menikah dengan siapapun, maka aku ingin memintamu suatu hal.
Apakah engkau bersedia menjadi pendampingku di Surga?
Komentar
Posting Komentar