Belum Tiba Waktunya

Sebelum tiba saatnya kehalalan, sepasang calon pasangan tetaplah calon. Sepasang calon bukanlah sepasang suami-istri.

Kalimat di atas agaknya terlalu naif bagi saya yang belum mengalami apa yang orang lain alami (baca : hari-hari menjelang pernikahan).
Saya betul-betul tak tahu bagaimana rasanya ketika detik-detik pernikahan itu tiba.

Hanya saja saat ini begitulah yang saya pikirkan. Perjalanan menuju halal masih panjang, namun seolah-olah sudah jadi pasangan. Bagi saya tidak, bagaimanapun belum halal.

Tegur sapa,
Tersenyum tertawa,
Menatap mengamati,
Mendengarkan dan saling berkisah,
Dan seterusnya.

Apa semua diperbolehkan, padahal belum sama sekali halal?

Sejujurnya saya juga merasakan ingin memiliki seseorang yang bersedia ditegur dan disapa, yang mau menerima senyum dan tertawa bersama saya, yang saling menatap dan mengamati yang menjadikannya pahala, berkisah, didengarkan, dan mendengarkan.
Jujur saja, saya rindu mendengarkan kisah dan cerita seseorang. Apalagi dari seorang pasangan. Begitu yang saya amati dari orang-orang. Apalagi konon, perempuan senang bercerita, InsyaAllah saya akan senang mendengarkan.

Namun sebelum saatnya tiba, kita perlu sadar bahwa kita belum punya sesiapa. Meskipun kita memprediksi dan mengambil asumsi bahwa seseorang akan jadi pasangan kita, kenyataannya belum ada akad yang terucap.

Saya berdoa semoga Allah melindungi saya, melindungi calon pasangan saya, melindungi sesiapa yang sedang berproses. Semoga tujuan yang lurus, Allah jadikan prosesnya lurus pula. Amin

Komentar