BENCI AYAH - BENCI TUHAN? Oleh Elly Risman, S.Psi


Seorang ibu muda berdiri mengacungkan tangannya untuk bertanya dalam sebuah seminar saya suatu hari. Dia menanyakan tentang anak laki-lakinya berusia 16 tahun yang mengalami perubahan yang sangat drastis dan tidak masuk akal mereka sebagai orang tua. Sejak kecil anaknya ini dikenal sangat patuh, baik, alim, suka mengaji dan bahkan sering jadi imam baik disekolah maupun dirumah. Tapi akhir-akhir ini dia mogok semua, bukan hanya jadi imam tapi bahkan mengaji dan sholat ditinggalkan. Kemudian, ibu ini mengakui bahwa kedua mereka tadinya sangat sibuk, terutama suaminya. Pendek cerita, dalam menghadapi situasi anaknya ini mereka kemudian menyadari dan mengurangi aktifitasnya dan ayah mulai mencoba mendekati anaknya, tetapi tak nampak adanya perubahan pada anaknya tersebut. Saya menangkap kegalauan yang sangat dari wajahnya dan mengerti mengapa dia “hilang malu” terhadap lebih dari 500 lebih audiens lainnya ketika menceritakan tentang anaknya ini.

Seorang ibu lainnya bertanya hal yang sama dengan cara yang sedikit berbeda. Dia menanyakan bagaimana deal dengan “inner childnya” agar dia bisa memperbaiki hubungan dengan anak laki-lakinya yang berusia 10 tahun. Ibu ini juga mengakui dengan air mata bahwa waktunya dengan anaknya tersebut sangat terbatas karena dia bekerja dan suaminya sering keluar kota. Kemudian saya tahu bahwa anaknya ini sudah pernah membentak dan bahkan ingin memukul ayahnya.

Tak pernah lupa saya akan wajah seorang lelaki muda (30 tahun) yang duduk di depan saya sekitar 8 tahun yang lalu, dengan wajah berat tapi hampa. Dia menjawab pendek pertanyaan saya: ”Apa yang membawa Anda kesini, bertemu saya?” jawabnya :”Disuruh ibu saya, Bu!” Saya menaikkan alis tanda terkejut tapi memberinya senyum lebar. Dia menceritakan dengan menahan tangis, bahwa ibunya nyaris putus asa untuk mencoba mendekatkan dia dengan ayahnya. Dia juga sedih sama ibunya dan bahkan pernah marah. Ia tahu bahwa ibunya menyadari mengapa dia tak pandai mengambil keputusan, tak bisa bertahan lama pada suatu pekerjaan dan bahkan tak pernah berhasil dalam hubungan dengan lawan jenis, semua berasal dari ke”tidak beres”an hubungannya dengan ayahnya.

Terakhir adalah salah satu pasien kami: anak super cerdas, lulusan PT ternama tetapi sudah sejak kelas 4 SD berkenalan dan kemudian adiksi berat pornografi. Dia punya hubungan buruk sekali dengan ayahnya dan juga ibunya. Ayahnya menghilang tak tentu rimba. Dan dia sudah bertahun tahun tak pernah jumpa. Yang paling menyedihkan adalah terakhir ini dia sudah langsung menyampaikan kepada kami complainnya terhadap Tuhannya. Ia berkeluh kesah mengapa Tuhan itu begini dan mengapa Tuhan itu begitu sehingga dengan aturan-aturan yang ditentukan Tuhan dia merasa terhambat ini dan terhambat itu.. Padahal disisi lan dia ingin sekali jadi hamba yang patuh pada aturan Allahnya. Dia ingin keluar dari kontradiksi berat yang dia alami.

Saya paham betul.. semua perasaannya itu berpangkal pada kekecewaannya, ketidakpengertiannya mengapa ayahnya meninggalkannya dan tak pernah berkabar berita.. Tapi di lain pihak ia juga merindukannya, dan berharap sekali waktu akan berjumpa.. Tapi harapannya itu seringkali kandas dan hampa..

Kekosongan jiwa anak dari Vitamin A (ayah) ini telah lama merupakan derita jiwa bagi saya. Tak tertanggungkan rasanya ketika menghadapi pertanyaan, keluhan para ibu di seminar, pelatihan, dan juga pengalaman langsung dengan ibu dan anak-anak di ruang-ruang praktek saya puluhan tahun lamanya.
Disisi lain, masha Allah Tabarakallah, saya juga tak terhitung berhadapan dengan berbagai jenis ayah dalam upaya memperbaiki hubungan ayah - anak ataupun membantu anak mereka keluar dari masalahnya.

Tetapi pengalaman panjang itu menghantarkan saya pada pengertian, memang seperti cara kerja otaknya yang lebih kuat sebelah kiri, ayah tak mudah berubah! Perubahan yang paling maksimal yang umumnya dilakukan adalah ayah melakukan kontak fisik, tapi sangat sulit dan berat bagi beliau untuk “menyapa rasa!”

MENGAPA AYAH AYAH BEGINI?

Hal yang banyak saya dan teman-teman saya sesama psikolog di Yayasan Kita dan Buah Hati temukan adalah karena ayah juga umumnya dulu mengalami atau jadi korban dari pengasuhan yang kurang lebih sama.
Saya sering mengatakan bahwa “Parenting is all about wiring!” Bagaimana kita bersikap dan bertindak terhadap anak, umumnya tak bisa dilepaskan dari pengalaman masa lalu yang kita terima setiap saat sehingga membentuk kebiasaan dan meninggalkan kenangan yang sangat kuat dalam ingatan kita. Kita mengulangnya: OTOMATIS dan TIDAK SENGAJA!

Hal ini kemudian saya minta di konfirmasi secara ilmiah pada guru kami Asep Khaerul Gani, sebagai apa yang disebut Inner Child seseorang. Sangat lazim, ketika seseorang bereaksi secara otomatis atau tak sengaja, maka umumnya reaksi itu bukanlah merupakan hasil dari tingkah laku yang ditunjukkannya sebagai orang dewasa, tetapi “anak kecil” dalam dirinya yang sangat kuat pengaruhnya itu.

Maka kita temukanlah berbagai jenis ayah seperti berikut:

(1) Ayah yang diam tak banyak bicara atau kalaupun bicara seperlunya saja: menegur, mengingatkan, memerintah, menyalahkan, meremehkan, mencap, mengancam, membandingkan, menasihati atau marah.

(2) Ayah yang dingin tak pandai menunjukkan perasaan apalagi kehangatan.

(3) Ayah yang suka memukul, menampar, menggunakan ikat pinggang, bahkan sapu lidi. Seorang anak SMP yang kecanduan games pernah menunjukkan pada saya: ”Lihat Nek, nih bekasnya sambil memperlihatkan betis dan lengannya yang barut merah bekas sapu lidi. Sapu lidi ada dimana mana, sehingga mudah diakses kalau ayah marah: ada dibawah, ditangga dan diatas lemari dilantai dua.” Ujar si anak. Ayahnya bukan orang biasa, beliau pejabat tinggi Negara! Kalaulah dia masih SD, mungkin saya sudah memeluknya, dia sudah baligh, yang bisa saya lakukan adalah menepuk-nepuk jemarinya sebagai tanda empati.. Hancur rasanya hati saya!

(4) Ayah yang dalam hal apa saja cenderung bergantung atau menyalahkan ibu, bahkan ada yang berkata: “Tuh lihat anakmu! ”Bagaimana kamu membesarkannya? Di keluargaku tidak ada anak seperti itu!” (maksud loh?!)

(5) Terakhir adalah ayah yang super duper sibuk sehingga benar-benar tak punya waktu dengan anak-anaknya. Tak sempat tersentuh olehya berbagai aspek perkembangan anaknya, jangankan sesekali mengambil raport atau menghadiri aktivitas anak di sekolah atau dilingkungannya, bicara baik-baik 10 menit saja dalam seminggu tak sempat dilakukannya.

Banyak jenis ayah lain, yang akan memperpanjang artikel ini untuk diuraikan.
Tentu saja tidak semua orang terjebak dalam keadaan seperti itu, karena banyak ayah-ayah mendapatkan pengasuhan yang benar dan baik, didasarkan pada ajaran agama yang kuat dan modelling yang benar jua.
Selain itu ada ayah-ayah yang bertekad sekuat mungkin atau “sumpah mati” berusaha mengalahkan pengalaman dan kebiasaan buruknya jangan sampai terulang pada anaknya.

APA YANG TERJADI PADA ANAK?

Berbagai bentuk emosi negatif yang kadang-kadang pada satu anak bisa belasan jumlahnya: Hampa/kosong, tertekan, sedih, kecewa, marah, terabaikan, merasa gak berharga, kurang percaya diri, bingung, kesal, mudah frusrasi, kehilangan semangat, sunyi dan sepi, ngiri sama orang lain, benci bahkan sampai dendam!
Bayangkanlah kalau seorang anak menyimpan sebanyak atau mungkin lebih rasa negetif terhadap orang tua sendiri?
Jadi bagaimana mekanismenya sampai dari benci ayah jadi benci atau mempertanyakan Tuhan dan malas menjalankan perintahNya?

Jadi.. Sederhana saja, sesuai dengan perkembangan otak dan cara berfikirnya. Dia merasa dan mengetahui bahwa seharusnya dia punya ayah yang membuatnya atau sepatutnya mendapatkan perhatian, dikasihi dan disayangi, dilindungi, di bela, diberikan semangat, didampigi, dan ada tempat untuk mengadu dan menyandarkan jiwa…

Semua tidak didapatkannya, sehingga dia merasakan semua rasa yang dituliskan diatas. Apalagi kalau dia sudah pandai membandingkan dengan teman-temannya yang terpenuhi haknya oleh ayahnya.
Mula-mula dia bingung, kemudian tidak suka dengan keadaan dirinya, tidak suka sama ayahnya (berjuta rasa campur aduk tentang dan terhadap ayahnya, tak bisa diungkapkan), tidak suka sama aturan agama yang mengharuskan dia untuk tetap tunduk, patuh dan hormat pada ayahnya, padahal perasaannya semua negatif. Terakhir dia tidak suka pada Tuhannya mengapa memberikan dia ayah seperti itu dan mengharuskan pula dia menghormatinya. Sebagai orang tua, Anda jangan marah dulu. Semua ini diungkapkan dari kaca mata anak yang umumnya ketika semua proses ini berlangsung, otak mereka saja belum sempurna berhubungan!

Selain proses tersebut, ada suatu proses kejiwaan lain yang terjadi yaitu konflik perasaan atau kontradiksi. Disatu pihak dia tak suka atau benci pada ayahnya tetapi di pihak lain sesungguhnya di lubuk jiwanya: dia rindu bahkan sangat mendambakan kasih sayang cinta dan perhatian dari ayahnya… Kasian!

Perasaan dan pemikiran ini umumnya tidak ada yang paham apalagi bersedia menguraikannya dan mengalirkannya. Anak malah dapat macam-macam CAP sesuai dengan pola pemikiran orang dewasa: Anak yang bandel, nakal, bodoh, keras kepala, bermasalah, suka melawan, gak ada harapan, susah diatur dsbnya dsbnya. Maka jadilah anak seperti apa yang dia dengar orang menilanya dan mencapnya.

Berapa banyak kita menemukan anak-anak yang seperti ini disekitar kita? Siapa yang berani meneriakkan kenyataan ini ke telinga jiwa ayahnya?
Hanya Allah jualah yang tahu apa yang telah kami upayakan. Ditahap tahap awal, belasan tahun yang lalu, kami melatih ibu-ibu untuk bicara dengan ayah anak-anaknya. Mereka kami ajarkan kiat-kiat, lalu role play dalam pelatihan-pelatihan. Kemudian kami sosialisasikan tehnik bicara yang lain, yaitu: (1.) Pilih waktu bicara (Menurut seorang ahli waktu yang paling tepat adalah setelah melakukan hubungan suami istri, sehingga keadaan relaks dan nyaman; (2.) Issue yang dibawa harus yang genting atau kritis (harus merumuskan dulu kegentingannya); (3.) Kalimat yang digunakan harus pendek dan sederhana tidak boleh lebih dari 15 kata!
Biasanya kami berikan kesempatan praktek dalam seminar-seminar kami yang umumnya riuh rendah dengan gelak tawa.

Kemudian akhir-akhir ini kami mengajak semua pasangan untuk mengenali dirinya sendiri lebih jauh. Kami mensosialisasikan di kota maupun di desa-desa tentang inner child negatif yang harus dibuang dan innerchild positif yang harus di “install” ketika cuaca hati lagi mendung berat atau halilintar dan kilat menyerang. Kami ajak suami mengenal pola asuh dan pembesaran dirinya dan kemudian mengenali hal yang sama pada istrinya atau sebaliknya. Kemudian keduanya, karena Allah harus bekerja sama untuk menyembuhkan atau sekurang-kurangnya mengatasi bersama masalah mereka. Kalau tak selesai juga, berarti mereka berdua perlu mencari bantuan ahli.

Memang orang tua terutama ayah, sebagai pemimpin dan pendidik keluarga mutlak memiliki ketakutan pada Allah dan panasnya api neraka dalam hal pemenuhan kebutuhan jiwa anak-anaknya. Apalagi kini kita hidup di era digital kalau anak sudah kecanduan berbagai hal, otak mereka terganggu atau rusak fungsinya. Apa yang diharapkan di masa tua kita kalau tak tertangani dan teratasi cepat masalahnya?

Anak kan bukan hanya investasi dunia tetapi terlebih lagi mereka adalah investasi akhirat, karena ketika kita sudah berada di alam yang berbeda, dialah satu-satunya yang doanya tak berjarak dengan kita.
Lagi pula habis habisan amat untuk menyiapkan bagi mereka bekal di dunia yang hanya maksimal 80 tahun mereka nikmati, apa yang sudah ayah persiapkan bagi mereka nanti ratusan tahun berada dibawah bumi?

Pulanglah ayah ke rumah, duduklah dikursi “kerajaan” dalam istanamu dan berfungsilah ayah sesuai tugas dan tanggung jawabmu! Jabatan ada akhirnya, gaji akan mengecil jumlahnya, syukur kalau ada pensiun, kalau tidak? Tabungan akan menipis, biasanya sebagian besar digunakan untuk berobat karena gangguan fisik dan jiwa sebab sudah renta. Anak bukan hanya jauh tapi dia tak peduli. Karena waktu dia kecil sampai dewasa, dia juga tak dapat waktu dan perasaannya tidak diperdulikan. Pedihnya..

Bayangkanlah ayah, kalau tak kau penuhi kebutuhan jiwa dan spiritual anakmu, maka mereka benci dan dendam padamu dan akan berlanjut pada benci serta tak patuh pada Allah kita. Bagaimanalah ayah akan menjawab bila hal ini ditanya Allah di padang Mahsyar nanti? Berakhir dimanakah perjalanan hidup kita ini?

Supaya sejarah tak berulang marilah kita ubah pengasuhan anak lelaki kita mulai hari ini..
Wallahualam bisshawab..

Salam hangat,
Elly Risman, Psi

#EllyRismanParentingInstitute
#ParentingEraDigital

Dapatkan buku berisi ulasan seminar Ibu Elly Risman berjudul “AYAH, Peran Vitalnya dalam Pengasuhan” terbitan Yayasan Kita dan Buah Hati dan Sekolah Alam Cikeas dengan inbox ke facebook Yayasan Kita dan Buah Hati. Selamat berjuang Ayah Bunda, semoga Allah mudahkah segala peran kita di dunia maupun akhirat :)

Komentar