Surat untuk calon istriku (9)
Akhirnya kutulis juga surat ini. Awalnya akan kujadikan sebagai surat terakhirku untukmu. Aku berpikir beberapa kali untuk menulis tulisan ini. Bukannya aku akan berhenti menulis untukmu, hanya saja kutulis surat ini sebagai salam perpisahanku.
Untukmu calon istriku,
Engkau adalah ada yang tak terbaca, adalah ada yang belum saatnya tiba.
Oleh karena itu, keberadaanmu di belahan bumi yang lain, sama sekali tak memiliki keterikatan denganku. Hatta engkau dekat denganku, engkau belum untukku. Hatta aku sedang mendekatimu, aku bukan sesiapamu.
Jika ajal tiba menemuiku, maka hukum itu berlaku, engkau tetap bukan untukku dan aku bukan untukmu. Jika ajal menemuiku, aku belum sempat menjadi pasanganmu.
Untukmu calon istriku,
Jika ajalku tiba, mungkin engkau takkan menyesali kematianku. Siapa aku yang bahkan mungkin engkau tak kenal? Hmm, takkan kurisaukan itu. Tentu pilihan terbaik untukmu yakni mencari pasangan yang lain.
Aku lebih memikirkan akhiratku,
Dengan siapa aku dipasangkan?
Sungguh aku percaya ketentuan dan keadilan Allah azza wa jalla. Seseorang yang wafat sebelum memiliki pasangan dunia, ia akan dipasangkan dengan pasangan akhirat. Sesungguhnya akhirat lebih baik dibandingkan dunia.
Untukmu calon istriku,
Jika kemudian engkau juga meninggalkan dunia yang fana ini. Jika rupanya kita sama-sama memiliki kecenderungan, maukah engkau berpasangan denganku di surga?
Meskipun bidadari surga begitu terhormat, semoga aku dipasangkan denganmu wahai pemimpin para bidadari.
Untukmu calon istriku,
Aku meyakini engkau perempuan terhormat, tetaplah seperti itu.
Untukku, semoga Aku ditempatkan di tempat yang baik di sisi Allah. Doakan aku.
Komentar
Posting Komentar